Review We, Everyday: Paket Drakor Lengkap yang Memuaskan untuk Disantap

Film We, Everyday akhirnya resmi rilis di tanah air. Film ini cukup menyita perhatian karena menjadi proyek terakhir mendiang Kim Sae-Ron sebagai pemeran utama. We, Everyday sendiri merupakan film coming-of-age yang diadaptasi dari webtoon populer KakaoPage dengan lebih dari 16 juta pembaca.
Kisah dalam We, Everyday akan menyoroti Yeo-Wool (Kim Sae-Ron) yang dikenal sangat menyukai bola basket dan telah bermain sejak kecil bersama dua sahabatnya, Ho-Soo (Lee Chae-Min) dan Joon-Yeon (Choi Yu-Ju). Sejak saat itu, persahabatan mereka terjalin erat hingga tumbuh bersama.
Namun, hubungan mereka mulai berubah ketika Ho-Soo tiba-tiba menyatakan perasaannya kepada Yeo-Wool. Namun, gadis itu hanya menganggapnya sebagai teman baik hingga suasana menjadi canggung. Di tengah hubungan yang merenggang, Yeo-Wool justru menyimpan rasa pada Ho-Jae (Ryu Eui-Hyun). Ho-Jae sendiri merupakan pemain terbaik di tim bola basket putra SMA. Cinta segitiga pun muncul di antara Yeo-Wool, Ho-Soo dan Ho-Jae. Lantas, di manakah hati Yeo-Wool akan berlabuh?
Bagi para penggila drakor, We, Everyday merupakan paket lengkap yang akan memuaskan untuk disantap. Dari gambar yang menghadirkan kombinasi warna-warni tata artistik, kostum, hingga sinematografinya berhasil dihadirkan tanpa harus terlihat berlebihan. Kesan serupa juga timbul dari pola penceritaannya.
Jujur saja, penulis cukup tenggelam dalam atmosfer film ini. Memang, film ini tidak dibangun dengan alur cepat atau plot yang over dramatis. Sang sutradara sepertinya dengan jelas membiarkan semuanya mengalir dengan sangat alami, nyaris seperti sedang mengamati kehidupan nyata tanpa filter. Kendati begitu, di balik percakapan yang tampaknya sederhana, tersimpan pengamatan tajam tentang bagaimana manusia (khususnya yang masih muda) mengarahkan cinta, ego, dan citra dirinya.
Naskah film ini juga bisa dibilang berhasil menyampaikan pesannya dengan baik tanpa terkesan dipaksakan. Alur ceritanya mengalir dengan cukup natural, meskipun tetap ada beberapa momen klise yang bisa kita temukan di film-film berlatar cinta segitiga lainnya, yang muncul tanpa adanya pengembangan karakter yang kuat. Tapi tetap, film ini sanggup menarik perhatian penulis.
Konklusi film ini pun juga tidak dihadirkan dengan meledak-ledak, tapi meninggalkan senyum pahit yang lama bertahan. Ada semacam kelokan kecil yang menyelamatkan sang tokoh utama dari keharusan membuat pilihan, dan itu justru mempertegas ironi, bahwa terkadang, seseorang lebih suka diselamatkan keadaan daripada mengambil tanggung jawab.
Overall, We, Everyday terasa sangat relevan di era sekarang. Bila sobat nonton mencari drama dengan alur padat dan konflik besar, sobat nonton mungkin akan merasa sedikit kecewa. Namun, jika kalian suka dan menikmati film yang membiarkan kalian berpikir, menertawakan, dan merenungkan hal-hal kecil yang ternyata sangat manusiawi, maka film ini merupakan pilihan yang tepat.








