Review Danur: The Last Chapter: Film Horror yang Memancing Amarah ketimbang Takut

Semesta pengisahan Danur kini hadir kembali lewat babak penutup yang mengakhiri kisah yang telah dimulai sejak tahun 2017 sialm. Bagian terakhir ini akan mengusung tajuk Danur: The Last Chapter. Awi Suryadi kembali duduk di bangku sutradara bersama Lele Laila sebagai penulis skenario. Keduanya telah menjadi pemain kunci di balik kesuksesan tiga film utama Danur, yakni Danur: I Can See Ghosts, Danur 2: Maddah, dan Danur 3: Sunyaruri (2019).
Dikisahkan, Risa (Prilly Latuconsina) kini telah memiliki babak kehidupan yang baru setelah bertahun-tahun memilih menutup gerbang dialog dan memutus komunikasi dengan teman-teman hantunya, Peter Cs. Di tengah upaya menjalani keseharian normal tanpa gangguan makhluk tak kasat mata, ketenangan Risa terusik kembali saat adiknya, Riri (Zee Asadel), menunjukkan perilaku janggal usai dilamar di sebuah gedung pertunjukan tua.
Menjelang hari pernikahan, sikap Riri kian tak terkendali, seolah raganya telah dikuasai sepenuhnya oleh kekuatan gelap yang asing. Tak hanya perubahan drastis pada Riri, Risa pun mulai mengalami rangkaian fenomena aneh yang membuatnya seolah merasakan pengalaman kematian menyakitkan berkali-kali. Risa curiga teror ini adalah cara Peter cs berusaha menyampaikan pesan penting yang mendesak. Pesan apakah itu?
Well, membahas soal progres, naskah buatan penulis langganan Danur, Lele Laila, setidaknya bukan lagi merupakan kompilasi pertunjukan jumpscare sebagaimana judul-judul sebelumnya. Tapi serupa Asih (dan deretan horor lokal kebanyakan), penyakit lama masih tetap menjangkiti. Walau tidak diisi pawai penampakan, alurnya masih terasa jalan di tempat, terkesan kosong, meski masih menyimpan banyak bekal misteri.
Daripada menggalinya satu per satu, Lele Laila rupanya memilih untuk menerapkan pola lama, yakni menyimpan semuanya hingga babak konklusi, sehingga menciptakan fase pengungkapan yang terburu-buru. Kelemahan itu turut mempengaruhi twist-nya yang terkesan mencurangi penonton, akibat hadir tiba-tiba tanpa diawali “penanaman benih” terlebih dahulu.
Urusan teror, Danur: The Last Chapter untungnya masih mampu mengeskalasi tingkat bahaya yang mengancam karakter Risa. Bukan saja teror psikis, kali ini fisiknya pun dihajar habis. Bertambahnya ujian bagi Risa otomatis berbanding lurus dengan beban Prilly, yang berkesempatan menampilkan jangkauan akting sedikit lebih luas, karena dituntut untuk tampak meyakinkan memerankan seseorang yang tersiksa mental dan fisik. Dan tugas ini sanggup dijalankan dengan cukup baik oleh Prilly.
Secara mengejutkan, penurunan justru datang dari penyutradaraan Awi Suryadi. Masih ada segelintir teror solid memang, tapi di sini Awi bagai terbuai akan eksplorasi sudut kamera. Dia lebih tertarik bergaya, mengaplikasikan sudut-sudut “berbeda” yang minim substansi perihal membangun kengerian. Ditunjang tata artistik yang digarap apik, visual film ini mungkin tampak cantik dan unik, namun rasa takut masih gagal dipantik.
Overall, Danur: The Last Chapter bukanlah tergolong horor lokal buruk yang cenderung memancing amarah daripada takut. Digarap sungguh-sungguh, kekecewaan sedikit lahir akibat potensi besar materi serta nama-nama yang terlibat di dalamnya. Namun, Awi Suryadi tetaplah menjadi salah satu sineas horror tanah air yang berpotensi menyuguhkan inovasi-inovasi. Selanjutnya, tinggal bagaimana ia bisa secara tepat guna menggunakan kreativitasnya tersebut.








