Review Sengkolo: Petaka Satu Suro: Akting dan Visual Oke, Tapi...

Pekan ini, kita semua kembali disuguhi oleh tontonan lokal bergenre horor yang berjudul Sengkolo: Petaka Satu Suro. Mengangkat mitos malam 1 Suro yang sudah melekat kuat dalam budaya Jawa, film ini coba menyajikan kisah teror mistis yang dekat dengan kepercayaan masyarakat, terutama soal pantangan dan hal-hal gaib yang dipercaya muncul di malam keramat tersebut.
Cerita dalam Sengkolo: Petaka Satu Suro berpusat pada Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan yang menjalani hidup sederhana bersama suami dan anaknya, sambil menantikan kelahiran anak kedua. Namun, ketenangan itu seketika berubah menjadi malapetaka saat sejumlah ibu hamil di desa tersebut mengalami kejadian mengerikan.
Bencana besar kemudian menimpa keluarga Rahayu dan mengguncang kehidupannya. Duka mendalam yang ia alami menjadi awal dari rangkaian teror yang semakin intens, terutama setelah adiknya, Ratih (Cindy Nirmala), kembali ke desa dan langsung diselimuti peristiwa-peristiwa aneh yang tak dapat dijelaskan secara logika.
Film ini sebenarnya memulai langkah dengan sangat cantik. Visual pesisir laut yang melankolis memberikan napas segar pada estetika horor lokal. Dramanya solid, tidak berlebihan, dan sobat nonton akan diajak untuk benar-benar bisa merasakan beban emosional dari karakter Rahayu. Pada titik ini, kita seolah diajak menonton drama psikologis yang berkelas.
Sementara itu, harus diakui, akting Aulia Sarah di awal film ini juga sangat memukau. Penulis berani bilang bahwa ini adalah salah satu penampilan dramatik terbaiknya karena ia mampu menunjukkan kerapuhan seorang ibu yang hancur tanpa perlu banyak berteriak.
Sayangnya, begitu ia bertransformasi menjadi "iblis", pesona aktingnya justru luntur. Sangat disayangkan talenta sebesar itu harus disembunyikan di balik prostetik berlebihan yang justru menghilangkan ekspresi murninya. Aktingnya menjadi terbuang percuma hanya demi estetika horor visual yang generik.
Ya, setelah paruh pertamanya yang kuat tadi, film ini malah terjun bebas ke pola horor yang itu-itu saja. Naskahnya mulai tidak logis, dan keterlibatan tokoh Ustaz di sini terasa hanya sekadar tempelan tanpa memberikan kontribusi berarti pada kedalaman cerita.
Film ini seolah juga takut kehilangan penonton jika tidak menyuguhkan jumpscare tiap beberapa menit, padahal ritme drama yang sudah terbangun sejak awal jauh lebih mencekam dan menjanjikan. Seandainya pembuat film berani mengambil risiko dengan memberikan porsis lebih pada unsur dramanya, film ini mungkin akan menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Karena jika sang sutradara mempertahankan suasana melankolis pesisir dan membiarkan horornya muncul secara organik tanpa gangguan jumpscare murahan tadi, maka akan jauh lebih efektif.
Namun, sekali lagi, sayang seribu sayang, Sengkolo: Petaka Satu Suro pada akhirnya hanyalah sebuah sajian horor medioker yang menyia-nyiakan departemen akting dan visualnya demi mengikuti tren pasar yang sudah jenuh ini. Kekuatan akting Aulia Sarah hancur tertutup prostetik, sementara cerita yang awalnya puitis berubah menjadi klise dan tidak logis.








